Riset Obligasi Bulanan

Maret 2017

Hingga akhir periode 1Q17, pasar obligasi konsisten berada pada tren bullish. Ketiga indeks obligasi yakni ICBI, Govt-Bonds, dan Corp-Bonds ditutup ke level tertinggi masing-masing ke level 220.96, 218.29, 231.03 dan bertumbuh masing-masing 3.14%MoM, 3.30%MoM, 1.94%MoM. Rilis fundamental ekonomi domestik menjadi penggerak pasar SBN untuk menguat ke level tertinggi.Indeks Manufaktur PMI kembali ke level ekspansi di 50.5 sejalan dengan rilis penjualan mobil yang membaik di Februari sebesar 7.5%YoY dari bulan sebelumnya hanya bertumbuh 1.5%YoY. Di sisi lain, tingkat inflasi Maret yang terjaga di level 3.6%YoY menjadi katalis positif pasar bahwa kekhawatiran atas tekanan inflasi yang berasal dari administered price diluar ekspektasi telah ter set-off oleh penurunan signifikan dari komponen barang bergejolak. Pelaku pasar kembali optimis bahwa kondisi fundamental cukup solid di tengah sejumlah sentiment negatif utamanya dari eksternal. Pertemuan pihak S&P dan kemenkeu dalam membahas isu strategis antara lain strategi tax amnesty, langkah ekspansi melalui pembiayaan infrastruktur dalam skema APBN, dan sejumlah perbaikan birokrasi dan regulasi untuk menunjang peringkat surat utang Negara memperoleh predikat investment grade setelah memperoleh outlook positif di 2016 silam.

Meski potensi kenaikan FFR sempat menjadi tekanan, The Fed kembali dovish dengan target hanya naik 25bps ke 0.75%-1% dari rencana semula akan mengalami kenaikan sebanyak 3x. Hal tersebut menjadi faktor penopang apresiasi Rupiah turut mendukung penguatan pasar obligasi berlanjut, Kinerja rupiah dibukukan menguat 1.09%MoM ke level Rp 13,325/US$. Rilis inflasi Februari menjaga ekspektasi positif pelaku pasar dibukukan deflasi -0.2 %MoM atau 3.6%YoY dengan berlanjutnya surplus neraca perdagangan periode Februari 2017 sebesar US$1.32 Miliar sehingga BI masih mempertahankan BI 7-day Reserve Repo Rate bertahandi level 4,75% (16/03/2017). Harga SUN Benchmark 2017 telah mengalami apresiasi cukup tinggi, masing-masing untuk FFR 53, 56, 73, dan 72 diperdagangkan di level 105.07, 108.9, 110.63, dan 105.21. Sepanjang Maret 2017, Investor Asing telah membukukan net buy sebesar Rp 31.33 Triliun, dengan akumulasi net buy sepanjang 3M17 sebesar Rp 57.41 Triliun. Dibukukannya net buy BI sebesar Rp21.32 Triliun Nampak Pemerintah concern terhadap likuiditas US Dollar domestik. Sementara itu, Pemerintah telah melakukan lelang SBN di Maret 2017 mencapai Rp 99.98 Triliun dengan mengalami oversubscribed mencapai 2.51 kali. DJPPR mempublish target indikatif yang dari lelang SBN sepanjang Triwulan I-2017 sebesar Rp155 Triliun, atau telah melebihi target dengan membukukan penerbitan sampai 3M17 sebesar Rp 265.74 Triliun.

Dengan melihat kondisi Bulan Maret ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi melanjutkan kinerja positif setidaknya hingga jelas momen puasa dan lebaran, seiring dengan momen rilis laporan keuangan korporasi yang diprediksi positif dengan ekspektasi asumsi makro masih stabil. Indeks diprediksi berada dalam rentang 5,510-5,680 menguji level resistance di 5,700 sejalan dengan bullish target kami di level 5,770.

Februari 2017

Pasar obligasi mampu menguat sepanjang bulan Februari. Ketiga indeks menguat, ICBI, Govt Bonds, dan Corporate Bonds menguat masing-masing1.03%MoM, 1.05%MoM, dan 0.89%MoM berturut-turut ke level 214.24, 211.31, dan 226.63. Terjaganya indikator ekonomi domestick picu penguatan pasar SBN. Cadangan devisa meningkat 2.5%MoM menjadi US$119.86 Miliar dari US$116.89 Miliar, penjualan retail Desember 2016 naik 10.5%YoY serta defisit transaksi berjalan Q4-2016 turun ke US$1.8 miliar. Perbaikan ekonomi sejak 2 tahun terakhir, mampu memberikan dorongan positif kepada pelaku pasar bahwa kondisi fundamental masih cukup solid di tengah kekhawatiran tekanan global. Tren bullish didukung pula dengan peningkatan outlook rating Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi positif yang menkonfirmasi sovereign debt rating di level investment grade. Ekspektasi investor meningkat terhadap peluang kenaikan peringkat utang Indonesia ke depan. Dengan demikian, ketiga lembaga pemeringkat internasional (S&P, Moody’s, dan Fitch) seragam memberikan outlook positif.

Meski presepsi risiko meningkat seiring potensi kenaikan FFR, penguatan pasar obligasi berlanjut di tengah apresiasi Rupiah turut topang penguatan pasar, kinerja rupiah dibukukan menguat 0.12%MoM ke level Rp 13,336/US$ atau menguat 0.27%YoY. Rilis inflasi Februari menjaga ekspektasi positif pelaku pasar tercatat tumbuh 0.23%MoM atau 3.83%YoY. Surplus neraca perdagangan periode Januari 2017 yang lebih tinggi dibanding perode sebelumnya yakni sebesar US$1.4 Miliar. BI 7-day Reserve Repo Rate bertahan di level 4,75% (16/02/2017). Respon positif investor memicu aksi beli pada mayoritas SBN sehingga berdampak pada kenaikan harga seri-seri SBN dan turunnya imbal hasil obligasi dalam sebulan. Harga SUN Benchmark 2016 telah mengalami apresiasi cukup tinggi, masing-masing untuk FFR 53, 56, 73, dan 72 diperdagangkan di level 103.61, 106.36, 106.82, dan 101.57. Sepanjang Februari 2017, Investor Asing telah membukukan net buy sebesar Rp 6.38 Triliun, dengan akumulasi net buy sepanjang 2M17 sebesar Rp 26.08 Triliun. Pemerintah telah melakukan lelang SBN di Februari 2017 mencapai Rp 70.37 Triliun dengan mengalami oversubscribed mencapai 2.07 kali. DJPPR mempublish target indikatif yang dari lelang SBN sepanjang Triwulan I-2017 sebesar Rp155 Triliun, atau telah melebihi target dengan membukukan penerbitan sampai 2M17 sebesar Rp 165.63 Triliun.

Dengan melihat kondisi Bulan Februari ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi melanjutkan kinerja positif untuk awal Triwulan I-2017, seiring ekspektasi asumsi makro masih stabil paska rilis PDB 2016 sebesar 5.02%, lebih baik dari tahun 2015 sebesar 4.9%. Indeks diprediksi berada dalam rentang 5.350-5.450 menguji level psikologi di 5.500.

Januari 2017

Perdana di 2017, Pasar obligasi mengalami kenaikan yang seragam di tiga indeks. Januari sebagai awal bulan membukukan Indeks Komposit Obligasi (ICBI) menguat 1.7%MoM, Indeks Obligasi Pemerintah tumbuh 1.73%MoM, dan Obligasi Korporasi meningkat 1.48%MoM. Sejumlah sentiment positif mendukung pasar, utamanya pasar obligasi untuk melanjutkan apresiasi atas harga obligasi. Ditengah kekhawatiran atas dampak “Trump’s inauguration” dan “hard brexit”, penguatan pasar lebih disebabkan oleh respon positif pasar terhadap terjaganya indikator ekonomi domestik seperti Terkendalinya inflasi Indonesia akhir tahun 2016 ke level 3,02%yoy, inflasi akhir tahun terendah dalam 7 tahun, diperkirakan direspon positif pelaku pasar. Terjaganya inflasi dalam target BI diperkirakan semakin meningkatkan persepsi positif investor terhadap stabilitas makro ekonomi domestik ditengah bayang-bayang volatilitas ekonomi global. FOMC meeting di awal Februari akan menjadi fokus utama pasar obligasi bulan depan, diprediksi masih dovish dan menjadi sentiment positif bagi pasar di tengah sentimen negatif atas faktor inflasi Januari yang meningkat 3.49%YoY sedangkan yang dikontribusi utamanya berasal dari administered price atas kenaikan tariff listrik 900 VA.

Surplus neraca perdagangan periode Desember 2016 yang lebih tinggi dibanding perode sebelumnya yakni sebesar US$992juta, akumulasi sepanjang 2016 dibukukan surplus US$8.78 Miliar. Dipertahankannya BI 7-day Reserve Repo Rate di level 4,75% (19/01/2017) yang sesuai konsensus pasar. Respon positif investor memicu aksi beli pada mayoritas SBN sehingga berdampak pada kenaikan harga seri-seri SBN dan turunnya imbal hasil obligasi dalam sebulan. Terjaganya kurs Rupiah yang terapresiasi sebesar 0,89%MoM atau 3.07%YoY merupakan faktor pendukung positifnya pasar obligasi domestik. Ketatnya pengawasan OJK atas kewajiban investasi di Surat Berharga Negara (SBN) bagi lembaga jasa keuangan yang tertuang dalam POJK Nomor 1/POJK.05/2016 menjadi faktor penting penguatan di pasar obligasi. Harga SUN Benchmark 2016 telah mengalami apresiasi cukup tinggi, masing-masing untuk FFR 53, 56, 73, dan 72 diperdagangkan di level 103.58, 105.11, 105.75, dan 101.11. Sepanjang Januari 2017, Investor Asing telah membukukan net buy sebesar Rp 19.7 Triliun, naik 9%YoY dibandingkan net buy Januari 2016. Sedangkan Pemerintah memenangkan lelang SBN di Januari 2017 mencapai Rp 70.23 Triliun dengan mengalami oversubscribed mencapai 2.67 kali. DJPPR mempublish target indikatif yang dari lelang SBN sepanjang Triwulan I-2017 sebesar Rp155 Triliun, atau sudah tercapai hampir 50%.

Dengan melihat kondisi Bulan Januari ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi berada dalam kondisi positif untuk awal Triwulan I-2017, seiring ekspektasi asumsi makro masih stabil paska rilis PDB 2016 sebesar 5.02%, lebih baik dari tahun 2015 sebesar 4.9%.  Indeks diprediksi berada dalam rentang 5.350-5.450 menguji level psikologi di 5.500.

Desember 2016

Pasar obligasi berlanjut bullish sepanjang penutupan akhir tahun 2016, tercermin dari indeks komposit yakni ICBI yang membukukan positive return hingga 13.74%Ytd menjadi 208.4493, lebih tinggi dari posisi tutup tahun di 2015 yang hanya membukukan 4.2%Ytd. Indeks obligasi Pemerintah turut mencatatkan kinerja positif yakni tumbuh 13.93%Ytd ke 205.5032 sedangkan Indeks obligasi Korporasi meningkat 12.62%Ytd menjadi 221.2946, sejalan dengan pertumbuhan return di IHSG tahun berjalan sebesar15.32%Ytd ditutup pada 5,296 dari level sebelumnya 4,593. Positifnya pasar obligasi di tahun 2016 tidak terlepas dari sentiment dan volatilitas pasar global. Spekulasi kenaikan The Fed Rate yang pada akhirnya dilakukan oleh The Fed sebesar 25bps pada akhir tahun mendominasi sentiment pasar global. dengan memproyeksikan lebih agresif di tahun 2017. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS membawa dampak Trump victory effect dengan rencana kebijakan fiskal yang agresif diprediksi mendorong naiknya inflasi dengan cepat sehingga The Fed memproyeksikan kenaikan The Fed rate setidaknya 3 kali di tahun 2017. Pasar obligasi domestik di tahun 2016 mengalami fase rebound dengan tren positif kinerja ICBI dari tahun 2015. Inflasi dalam negeri berada dalam tren rendah yakni di kisaran 2,79%yoy – 4,45%yoy, pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5,00%yoy, dan terjaganya kurs Rupiah yang terapresiasi sebesar 2,28%ytd merupakan faktor pendukung positifnya pasar obligasi domestik.

Kondisi tersebut mendorong BI untuk melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan BI rate hingga 75bps ke level 6.50%, kemudian mengganti suku bunga acuan menjadi BI 7 Day RR dan kembali memangkas menjadi 4,75%, turut menopang positifnya kinerja pasar obligasi domestik. Kewajiban investasi di Surat Berharga Negara (SBN) bagi lembaga jasa keuangan yang tertuang dalam POJK Nomor 1/POJK.05/2016 menjadi faktor penting penguatan di pasar obligasi. Disamping itu, upaya pemerintah dalam mendongkrak penerimaan pajak melalui kebijakan Tax Amnesty turut memberikan andil bagi meningkatnya permintaan instrumen SBN sebagai salah satu instrumen penampung dana repatriasi. Pasar obligasi domestik di tahun 2017 diperkirakan masih melanjutkan tren positif sejalan dengan masih terjaganya indikator makro dalam negeri. Namun demikian, pasar obligasi domestik akan dihadapi dengan tantangan utama dari global yakni pengetatan kebijakan moneter di AS atau rencana kenaikan The Fed sebanyak 3 kali yang memungkinkan untuk berbaliknya arah kebijakan moneter BI dari tren longgar menjadi kembali ketat di tahun 2017.

Dengan melihat kondisi Bulan Desember ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi berada dalam kondisi positif untuk awal tahun 2017, seiring ekspektasi asumsi makro APBN 2017 yang kuat dengan PDB diperkirakan tumbuh 5,1%, inflasi dalam tren terjaga 4,0%, dan nilai tukar Rupiah berada di level Rp13.300/US$.  Indeks diprediksi berada dalam rentang 5.290-5.450 menguji level resistance di 5.350, seiring investor menanti efektivitas sejumlah paket ekonomi yang telah dirilis di tengah tekanan sentimen eksternal yang mulai mereda.

November 2016

Pasar obligasi melanjutkan tren pelemahan sepanjang bulan November. Koreksi di pasar obligasi di bulan November tercermin pada ICBI, sebagai indeks komposit obligasi, terkoreksi ke level 205.19 (-3.78%MoM) seiring meningkatnya volatilitas pasar dan risiko politik dari luar negeri terkait Pemilu di AS maupun domestik yang tengah menguji faktor fundamental yang masih cukup baik. Sementara itu, rebound harga komoditas minyak mentah pasca kesepakatan OPEC untuk menahan produksi minyak mentah sebesar 1.2 juta barel per hari, sempat membawa harga minyak dunia kembali ke level US$49.9/barrel turut menjadi faktor positif setelah sempat terkoreksi ke US$42/barel dikarenakan sejumlah Negara non-OPEC tidak sepakat untuk menahan produksi. Di sisi lain, sinyal positif dari FOMC untuk kenaikan FFR di Desember kembali hadir seiring dengan perbaikan data ekonomi AS. November menjadi bulan yang berbeda bagi AS, terpilihnya Trump menjadi Presiden menjadi sentimen positif bagi AS. Kebijakan yang cenderung agresif terkait ekspansi fiskal dan proteksi perdagangan AS mendorong penguatan Index Dollar dan imbal hasi US Treasury. Dari dalam negeri, Inflasi di November sebesar 0.47%MoM menjadi 3.58%YoY menjadi harapan kembalinya pertumbuhan ekonomi domestik meski rilis pertumbuhan kredit di Oktober kembali menyusut ke 6.47%YoY dari 6.8%YoY bulan sebelumnya, pertanda permintaan akan konsumsi domestik masih lemah.

BI mempertahankan suku bunga acuan baru yakni BI rate 7-Days Reverse Repo menjadi 4.75% bersamaan dengan deposit facility rate dan lending facility rate tetap berada di level 4% dan 5.5% pada 17 November 2016. Nilai surplus neraca perdagangan Oktober 2016 sebesar US$1.21 Miliar dengan mengakumulasi surplus 10M16 sebesar US$6.93 Miliar didukung dengan pertumbuhan ekspor dan impor baik dalam bulanan maupun year on year. Ketiga Indeks acuan obligasi serempak mengalami koreksi dalam sebulan penuh yakni ICBI -3.78%MoM, Index-Govt TR -4.03%MoM, dan Index-Corp TR -1.90%MoM. Investor asing masih membukukan net sell di pasar obligasi selama sebulan mencapai Rp19.58 Triliun menurunkan pembukuan akumulasi net buy menjadi Rp97.54 Triliun sejak awal tahun. Di sisi lain, Institusi Perbankan tercatat melakukan net buy selama sebulan sebesar Rp16.40 Triliun sehingga membukukan net buy Rp86.43 Triliun sejak awal tahun dengan porsi kepemilikan asing mengalami penurunan dari 38.4% di akhir Oktober 2016 menjadi 37.05 %. Lelang SBN di November terakhir per 8 November 2016, di mana Pemerintah memenangkan lima seri lelang dengan seri FR0059 yang mendominasi di mana mengalami oversubscribed sebesar 1.99 kali (senilai Rp4.05 Triliun). Total yang diperoleh dari hasil lelang lima seri tersebut sebesar Rp 12.9 Triliun dari total penawaran yang masuk sebanyak Rp22.51 Triliun.

Dengan melihat kondisi Bulan November ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi cenderung mengalami rebound dengan pergerakan Indeks diprediksi berada dalam rentang 5.300-5.390 seiring dengan langkah window dressing dan ekspektasi rilis laporan keuangan emiten 3Q16 serta kinerja akhir tahun 2016 lebih baik sejalan dengan disepakatinya RUU APBN 2017 yang dinilai cukup positif serta berangsurnya membaik risiko politik baik dari luar maupun dalam negeri.

Oktober 2016

Pasar obligasi berbalik dalam tren pelemahan sepanjang bulan Oktober. Koreksi di pasar obligasi di bulan Oktober tercermin pada ICBI, sebagai indeks komposit obligasi, sempat menguat ke level 215.67 (+0.17%MoM) di bulan Oktober pasca rilis hasil program Tax Amnesty tahap I di mana tebusan mencapai Rp89.5 Triliun, lebih dari 50% dari target sebesar Rp165 Triliun. Sementara itu, rebound harga komoditas minyak mentah pasca kesepakatan OPEC untuk menahan produksi minyak mentah, sempat membawa harga minyak dunia bertahan di level US$51.93/barrel turut menjadi faktor positif meski ancaman kenaikan FFR yang seiring dengan perbaikan data ekonomi AS kembali menekan pasar obligasi. Tingginya kepemilikan asing terhadap asset berdenominasi Rupiah menyebabkan resiko volatilitas yang meningkat sejalan dengan gejolak faktor eksternal. Komitmen stimulus sejumlah bank sentral versus pengetatan kebijakan moneter The Fed menjadi sentimen negatif pasar meski rilis PDB China 3Q16 bertahan di 6.7%YoY, mampu menahan pesmisme ekonomi global. Inflasi di Oktober sebesar 0.12%MoM menjadi 3.3%YoY menjadi harapan kembalinya pertumbuhan ekonomi domestik meski rilis PDB Indonesia 3Q16 cukup mengecewakan 5.02%YoY, in line dengan consensus ekonom yang mendowngrade target PDB Indonesia 2016 di 5%.

BI memangkas suku bunga acuan baru yakni BI rate 7-Days Reverse Repo menjadi 4.75% bersamaan dengan dipangkasnya deposit facility rate 25bps menjadi 4% serta lending facility rate sebesar 25bps menjadi 5.5% pada 20 Oktober 2016. Nilai surplus neraca perdagangan September 2016 sebesar US$1.22 Miliar dengan mengakumulasi surplus 9M16 sebesar US$5.59 Miliar justru menunjukkan ekonomi pelemahan domestik di mana surplus terdorong oleh anjlok nya nilai impor terhadap komponen barang konsumsi.. Ketiga Indeks acuan obligasi membukukan kinerja masing-masing yakni ICBI -0.95%MoM, Index-Govt TR -1.11%MoM, dan Index-Corp TR +0.33%MoM. Investor asing masih membukukan net sell di pasar obligasi selama sebulan mencapai Rp9.35 Triliun menurunkan pembukuan akumulasi net buy sebesar Rp117,11 Triliun sejak awal tahun. Di sisi lain, Institusi Perbankan tercatat melakukan net buy selama sebulan sebesar Rp51.46 Triliun sehingga membukukannet buy Rp70.02 Triliun sejak awal tahun dengan porsi kepemilikan institusi bank konvensional mendominasi hingga 90.6%. Lelang SBN terakhir per 25Oktober 2016, di mana Pemerintah memenangkan lima seri lelang dengan seri FR0059 yang mendominasi di mana mengalami oversubscribed sebesar 1.53 kali (senilai Rp15.32 Triliun). Total yang diperoleh dari hasil lelang lima seri tersebut sebesar Rp11.62 Triliun dari total penawaran yang masuk sebanyak Rp15.32 Triliun.

Dengan melihat kondisi Bulan Oktober ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi cenderung mengalami koreksi minor dengan pergerakan Indeks diprediksi berada dalam rentang 5.300-5.390 seiring ekspektasi dari Tax Amnesty tahap II yang melambat di tengah ekspektasi risiko aset berdenominasi Rupiah yang semakin meningkat meski asumsi makro RAPBN 2017 menetapkan target defisit anggaran yang masih di level managable.

September 2016

Pasar obligasi dalam tren penguatan hingga akhir bulan di tengah sentiment pasar yang mixed. Secara umum, pasar obligasi masih melanjutkan tren bullish di bulan September. ICBI sebagai indeks komposit obligasi sempat menguat ke level 216.02 (+1.55%MoM) di bulan September pasca rilis kebijakan bank sentral umum nya menahan untuk meningkatkan kebijakan stimulus moneter sedangkan rapat FOMC kembali gagal menaikkan FFR pada bulan ini. Inflasi di September sebesar 0.20%MoM menjadi 3.07%YoY menjadi harapan kembalinya pertumbuhan ekonomi domestic di tengah kembalinya surplus neraca perdagangan Agustus 2016 sebesar US$293.7 juta. Neraca perdagangan dibukukan telah mengakumulasi surplus 8M16 sebesar US$4.38 Miliar. Sementara itu, rebound harga komoditas minyak mentah pasca kesepakatan OPEC untuk menahan produksi minyak mentah, sempat membawa harga minyak dunia bertahan di level US$48/barrel turut menjadi faktor positif di tengah penguatan pasar obligasi meski ancaman kenaikan FFR yang dipastikan naik sekali di 2016 sedangkan sentiment lesu nya perdagangan China masih mewarnai pasar.

BI memangkas suku bunga acuan baru yakni BI rate 7-Days Reverse Repo menjadi 5% bersamaan dengan dipangkasnya deposit facility rate 25bps menjadi 4.25% serta lending facility rate sebesar 25bps menjadi 5.75% pada 22 September 2016. Tebusan Tax Amnesty meningkat signifikan sebesar Rp88 Triliun di September mendorong penguatan pasar, di mana harta yang dilaporkan dalam program Tax Amnesty telah mencapai Rp3,709 Triliun. Nilai Ekspor Impor yang meningkat signifikan serta rilis inflasi yang membaik diharapkan menjadi trigger pertumbuhan perekonomian domestik yang mulai membaik di 2016. Ketiga Indeks acuan obligasi membukukan kinerja masing-masing yakni ICBI +1.21%MoM, Index-Govt TR +1.24%MoM, dan Index-Corp TR +0.964%MoM. Investor asing masih membukukan net buy di pasar obligasi selama sebulan mencapai Rp16.89 Triliun, atau akumulasi sebesar Rp126,46 Triliun sejak awal tahun. Di sisi lain, Institusi Perbankan tercatat melakukan net sell selama sebulan sebesar Rp80.08 Triliun meski masih mencatatkan net buy Rp18.56 Triliun sejak awal tahun. Lelang SBN terakhir per 27 September 2016, di mana Pemerintah memenangkan lelang FR0059 dengan bid to cover ratio 1,91x. Total yang diperoleh dari hasil lelang sebesar Rp14 Triliun dari total penawaran yang masuk sebanyak Rp19.73 Triliun.

Dengan melihat kondisi Bulan September ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi cenderung menguat tipis dengan pergerakan Indeks diprediksi berada dalam rentang 5.300-5.410 seiring ekspektasi realisasi dari Tax Amnesty meningkat meski risiko ekspektasi pelebaran defisit anggaran masih membayangi seiring dengan claim pendapatan Pemerintah dari pajak yang masih lambat.

Agustus 2016

Pasar obligasi ditutup terkoreksi tipis pada akhir bulan sejalan dengan sentiment pasar yang bervariasi. Secara umum, pasar obligasi masih melanjutkan tren bullish di bulan Agustus. ICBI sebagai indeks obligasi sempat menguat ke level 214,7 (+0,92%) di bulan Agustus pasca rilis data fundamental Indonesia yang lebih baik dari ekspektasi pasar menjadi katalis positif. PDB Indonesia Triwulan II dirilis oleh BPS meningkat 5,18%YoY, sejalan dengan estimasi World Bank di kisaran 5,1% menjadi dorongan positif di awal bulan. Di sisi lain, kembalinya deflasi di Agustus sebesar -0,02%MoM menjadi 2,79%YoY untuk inflasi Agustus serta tercatat kembali surplus neraca perdagangan Juli 2016 merupakan factor yang dominan menggerakkan pasar obligasi berada pada tren bullish. BPS mencatatkan neraca perdagangan kembali surplus US$ 598,3 juta dengan akumulasi surplus 7M16 sebesar US$4,17 Miliar. Sementara itu, rebound harga komoditas minyak mentah yang sempat ke level highest US$48,75/barrel turut menjadi faktor positif di tengah penguatan pasar obligasi meski ancaman kenaikan FFR kembali hadir di tengah sentiment lesu nya perdagangan China turut mewarnai pasar.

BI telah menetapkan suku bunga acuan baru yakni BI rate 7-Days Reverse Repo sebesar 5,25% yang efektif bersamaan dengan penetapan kebijakan deposit facility rate 4,5% serta memangkas lending facility rate sebesar 100bps menjadi 6% pada 19 Agustus 2016. Lambatnya progress Tax Amnesty menjadi salah satu faktor pesimis di tengah penguatan pasar. Posisi neraca perdagangan yang anjlok serta inflasi yang kian turun menjadi pertanda tingkat daya beli yang semakin lemah. Peningkatan cadangan devisa yang berlanjut hingga Agustus 2016 ke level US$113,5 Miliar belum cukup memberikan indikasi bahwa kondisi perekonomian domestik lebih baik di tengah pelemaha Rupiah ke level Rp13.300. Pemerintah memprediksi kembalinya penurunan belanja Negara serta potensi pelebaran defisit anggaran turut meningkatkan tekanan kepada pasar domestik. Ketiga Indeks acuan obligasi membukukan kinerja masing-masing yakni ICBI -0.01%MoM, Index-Govt TR -0.01%MoM, dan Index-Corp TR 0.54%MoM. Investor asing masih membukukan  net buy di pasar obligasi selama sebulan mencapai Rp9,06 Triliun, atau akumulasi sebesar Rp109,57 Triliun sejak awal tahun. Di sisi lain, Institusi Perbankan tercatat melakukan net sell selama sebulan sebesar Rp21,87 Triliun. Lelang SBN di akhir bulan Agustus ditutup oversubscribed sebesar 1,84x atau senilai Rp22,12 Triliun dengan Seri FFR56 merupakan seri yang paling banyak dibeli dengan total penawaran mencapai Rp10,75 Triliun atau 48,63% dari total penawaran.

Dengan melihat kondisi Bulan Agustus ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi berada dalam kondisi sideways dengan kecenderungan mengalami koreksi. Indeks diprediksi berada dalam rentang 5.150-5.250 seiring risiko investasi masih cukup tinggi ditandai penurunan yield 10-year tidak sejalan dengan pelemahan Rupiah.