Riset Saham Bulanan

Maret 2017

IHSG bulan Maret 2017 ditutup naik 3.37% atau 181.41 poin di level 5,568 (dibanding bulan Februari 5,387) naik di tengah kondisi fundamental domestik yang solid. Investor Asing membukukan netbuy sepanjang Bulan Maret 2017 sebesar Rp10.1 Triliun. Data ekonomi AS masih menunjukkan perbaikkan berlanjut, ISM Manufacturing dan non Manufacturin masing-masing di level 57.2 dan 55.2 periode Maret, ADP employment change naik 263k di Maret. Inflasi AS diprediksi bertahan di 2.7%YoY setelah membaik dari 2.5%YoY di Januari sedangkan PDB AS 4Q16 dirilis hanya 2.1%QoQ. The Fed hanya menaikkan 25bps ke 1% pada pertemuan FOMC Maret serta memberikan statementdovish terhadap rencana kenaikan FFR selanjutnya. Sementara itu, Negara lain masih mempertahankan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas moneter di mana BoE tetap bertahan di level suku bunga rendah 0.25% dan melanjutkan program QE dengan target pembelian asset sebesar £435 bn. Sedangkan Jepang turut menjaga suku bunga acuan -0.1% dan program QE bertahan di angka ¥80 tn. Berbeda dengan China yang sejalan dengan kenaikan FFR, PBoC menaikkan 7d RR 10bps menjadi 2.45% dan suku bunga MT Lending Facility 1y sebesar 10bps menjadi 3.2%. Dari pasar komoditas, nampaknya harga minyak mentah akan beranjak menguat bertahap seiring dengan kesepakatan Negara OPEC dan sejumlah non OPEC untuk memperpanjang pembatasan produksi minyak mentah untuk 6 bulan mendatang.

RDG BI (16/3) masih mempertahankan BI 7-Day RR sebesar 4.75% di mana inflasi Maret 2017 terjaga di level 3.61%YoY dengan membukukan deflasi sebesar -0.2%MoM, di mana lonjakan komponen administered price yang berasal dari kenaikan TDL ter set-offoleh penurunan signifikan komponen barang bergejolak. Surplus neraca perdagangan berlanjut hingga periode 2M17 sebesar US$1.32 bn, atau terakumulasi US$2.72 bn Ytd. Prospek ekonomi domestik membaik, Apresiasi rupiah 1.09%Ytd terjaga di level Rp13.325/US$ di tengah The Fed cenderung dovish serta sejumlah langkah politik Presiden Trump cenderung negatif membawa sentiment pesimis melemahkan posisi US dollar. Meski demikian, tekanan inflasi masih menjadi ancaman dengan sejumlah justifikasi harga BBM dan dampak jangka menengah kenaikan TDL yang membawa kepada pesimisme PDB, di mana BI memangkas proyeksi pertumbuhan 1Q17 menjadi 5.05%YoY. Mempertimbangkan kenaikan FFR dan ruang peningkatan inflasi, diprediksi suku bunga acuan akan direspon naik oleh BI di tengah penguatan Rupiah yang terbatas. Sisi positif lainnya, menurut kemenkeu bahwa S&P tidak memiliki alasan untuk menahan rating Indonesia menjadi investment grade. Sejumlah isu strategis telah dibahas baik dari struktur APBN hingga regeluasi dan birokrasi. Tax Amnesty dan program infrastruktur menjadi hal penting dalam pembahasan tersebut.

Dengan melihat kondisi Bulan Maret ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi melanjutkan kinerja positif setidaknya hingga jelas momen puasa dan lebaran, seiring dengan momen rilis laporan keuangan korporasi yang diprediksi positif dengan ekspektasi asumsi makro masih stabil.  Indeks diprediksi berada dalam rentang 5,510-5,680 menguji level resistance di 5,700 sejalan dengan bullish target kami di level 5,770. jalan denganbullish target kami di level 5,770.

Februari 2017

IHSG bulan Februari 2017 ditutup naik 1.75% atau 92.59 poin di level 5,386 (dibanding bulan Desember 5,294) naik di tengah kondisi fundamental domestik yang solid. Investor Asing membukukan netsell sepanjang Bulan Februari 2017 sebesar Rp805.95 Miliar. The Fed ragukan kebijakan Presiden Trump, dengan proposal anggaran belanja pemerintah AS yang diajukan belum menunjukkan rencana detail perubahan pajak. Meski demikian, perbaikan ekonomi AS diyakini optimis terus berlanjut dengan bertahap Data AS membaik, ISM Manufacturing naik ke 56 di Januari, sedangkan nonfarm employment naik 227k di januari. Inflasi AS diprediksi membaik menjadi 2.5%YoY dari 2.1%YoY. Di sisi lain, pertumbuhan PDB zona euro direvisi naik ke 1.8%YoY dari 1.7%YoY dengan tingkat pengangguran turun 1% ke 9.6%. Kondisi eropa yang masih belum stabil dengan ekspektasi stimulus lanjutan oleh ECB menyebabkan risiko pasar meningkat di tengah rencana kenaikan lanjutan FFR oleh The Fed. Tekanan global lain berasal dari kawasan Asia, Jepang mempertahankan stimulus di tengah pertumbuhan ekonomi yang lambat, revisi PDB 4Q16 turun menjadi 1%YoY dari 1.3%YoY sedangkan China masih terus mengalami penurunan cadanga devisa hingga US$12.3 miliar menjadi US2.998 triliun.

Sementara itu, RDG BI (16/2) mempertahankan BI 7-Day RR sebesar 4.75% dengan mempertimbangkan ruang moneter yang cukup longgar di mana inflasi Februari 2017 masih dapat dikelola dengan baik di level 0.23%MoM sehingga menjadi 3.83%YoY, di mana komponen administered price dominan berkontribusi sebesar 0.58% atas kenaikan tariff listrik 900VA. Surplus neraca perdagangan periode Januari 2017 sebesar US$1.4 miliar, lebih tinggi dibanding perode sebelumnya, US$1.05 Miliar. Prospek ekonomi domestic membaik, dengan resminya Moody’s menyematkan outlook positif pada sovereign debt rating untuk Indonesia menjadi investment grade. Outlook positif ini disematkan seragam oleh ketiga pemeringkat internasional yakni S&P, Moody’s, dan Fitch. Di sisi lain, likuiditas domestik semakin kuat dengan cadangan devisa yang meningkat US$2.97 miliar di Februari menjadi US$119.86 Miliar dan defisit neraca transaksi berjalan yang turun dari 1.9% menjadi 0.8% di 4Q16 mendorong apresiasi rupiah 0.27%YoY terjaga di level Rp13.300/US$. Meski demikian, tekanan inflasi membawa kepada pesimisme pertumbuhan, di mana BI memangkas proyeksi pertumbuhan 1Q17 menjadi 5.05%YoY. Di sisi lain, dengan berakhirnya periode Tax Amnesty di 1Q17, Pemerintah kembali meningkatkan potensi pendapatan Pajak melalui upaya pembukaan data nasabah perbankan yang efektif per 17 April mendatang.

Dengan melihat kondisi Bulan Februari ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi melanjutkan kinerja positif untuk awal Triwulan I-2017, seiring ekspektasi asumsi makro masih stabil paska rilis PDB 2016 sebesar 5.02%, lebih baik dari tahun 2015 sebesar 4.9%. Indeks diprediksi berada dalam rentang 5.350-5.450 menguji level psikologi di 5.500.

Desember 2016

IHSG bulan Desember 2016 ditutup naik +2.87% atau +147.8 poin di level 5,297 (dibanding bulan November 5,149) meningkat sejalan dengan sentimen positif yang berasal dari domestik. Perkembangan perekonomian yang stabil versus dengan ekspektasi pasar yang cukup dovish didukung dengan suksesnya program tax amnesty dinilai sebagai penopang utama penguatan indeks sepanjang 2016 yang membukukan pertumbuhan signifikan sebesar 15.45%Ytd. Fluktuasi harga minyak mentah dunia yang cenderung menguat dan stabil di atas level US$50/barel merupakan sentimen positif dari pasar komoditas. Di sisi lain, faktor global masih dengan issue yang sama di mana dominasi Trump Effect serta agresivitas kenaikan FFR menjadi titik resiko yang akan berlanjut di 2017 mendatang. Outlook positif yang datang dari S&P, meski gagal mendapatkan predikat investment grade di 2016, merupakan sisi positif di 2016 yang menggambarkan bahwa fundamental Indonesia masih kuat. Di sisi lain, sentimen dari sejumlah analis yang melakukan underweight terhadap Indonesia baik oleh Morgan Stanley maupun JP Morgan sempat membuat pasar terkoreksi. Akan tetapi, koreksi pasar mampu ditahan dengan baik di mana faktor net buy oleh investor domestik cukup solid dengan dukungan likuiditas pasar yang cukup kuat, hingga Rp22.38 Triliun sepanjang 4 bulan terakhir. Meski demikian, sepanjang 2016 investor asing masih solid membukukan net buy di pasar saham sebesar Rp15.36 Triliun sedangkan kepemilikan di obligasi dibukukan 37.55% dengan net buy di pasar obligasi sepanjang 2016 sebesar Rp107.29 Triliun.

Dalam RDG BI (15/12), BI mempertahankan BI 7-Day (Reverse) Repo Rate sebesar 4.75% di mana suku bunga deposito facility dan lending facility bertahan di level 4% dan 5.5% sebagai upaya menjaga stabilitas moneter dari risiko keuangan global di mana The Fed cenderung agresif dalam kenaikan FFR. Di sisi lain, BPS membukukan inflasi di Desember 2016 sebesar 0.42%MoM sehingga inflasi Desember menjadi 3.02%YoY, in line dengan konsensus ekonom di level 2.84%YoY, di mana komponen administered price dominan menopang tingkat inflasi sebesar 0.19%. BPS kembali merilis surplus neraca perdagangan pada November 2016 US$837.8 juta, di atas konsensus ekonom surplus US$750 juta, dengan nilai Ekspor meningkat 5.91%MoM menjadi $13.50 miliar didukung kenaikan ekspor nonmigas hingga 6.04%MoM. Sementara nilai Impor turut meningkat 10.00%MoM menjadi $12.66 miliar di mana impor migas menjadi faktor peningkatan impor November tumbuh 13.89%MoM. Secara akumulasi, tren surplus mencatatkan akumulasi 11M16 sebesar $8.09 miliar sedangkan Rupiah masih terjaga di level Rp 13,247/US$ - Rp 13,590/US$ sejalan dengan tren cadangan devisa yang kian membaik ke level US$116.36 miliar.

Dengan melihat kondisi Bulan Desember ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi berada dalam kondisi positif untuk awal tahun 2017, seiring ekspektasi asumsi makro APBN 2017 yang kuat dengan PDB diperkirakan tumbuh 5,1%, inflasi dalam tren terjaga 4,0%, dan nilai tukar Rupiah berada di level Rp13.300/US$.  Indeks diprediksi berada dalam rentang 5.290-5.450 menguji level resistance di 5.350, seiring investor menanti efektivitas sejumlah paket ekonomi yang telah dirilis di tengah tekanan sentimen eksternal yang mulai mereda.

November 2016

IHSG bulan November 2016 ditutup turun -5.05% atau -273.63 poin di level 5,149 (dibanding bulan Oktober 5,423) terkoreksi sejalan dengan risiko pasar global yang meningkat seiring dengan Pemilu di AS yang dimenangkan oleh Trump. Indeks mengalami netsell di seluruh pasar investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp12.36 triliun sedangkan di pasar reguler tercatat aksi net sell hingga Rp13.65 Triliun, Aksi jual sepanjang bulan November didorong sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti TLKM, ASII, BBCA, dan BBRI dengan jumlah net sell keempat saham tersebut mencapai Rp7.78 Triliun atau mewakili 62.9% dari total net sell. OPEC telah sepakat menahan produksi Minyak Mentah hingga 1.2 juta barel per hari hingga enam bulan ke depan mendorong kenaikan harga minyak dunia berlanjut ke US$49.9/barrel setelah sebelumnya terkoreksi atas ketidakpastian pasar komoditas kembali menjadi katalis positif. Hasil FOMC November cenderung positif untuk kenaikan FFR di Desember sejalan dengan rilis data ekonomi AS terakhir terpilihnya Trump yang cenderung agresif merestrukturisasi perekonomian AS dengan ekspansi fiskal dan proteksi perdagangan, di tengah perlambatan China yang ditandai dengan menurunnya tingkat retail sales serta pesimisme inflasi di Jepang menyebabkan dollar Index dan imbal hasil US Treasury meningkat. Dari dalam negeri, strategi operasi moneter BI diperkirakan akan lebih fleskibel dengan menggunakan dana SBN dengan mempertimbangkan likuiditas rupiah yang kembali turun akibat operasi pasar dengan posisi cadangan devisa November terkoreksi ke US$111.47 Miliar.

Dalam RDG BI (17/11), BI mempertahankan BI 7-Day (Reverse) Repo Rate sebesar 4.75% di mana suku bunga deposito facility dan lending facility bertahan di level 4% dan 5.5% sebagai upaya menjaga stabilitas moneter dari risiko keuangan global pasca Pemilu AS. Di sisi lain, BPS membukukan inflasi di November 2016 sebesar 0.47%MoM sehingga inflasi November menjadi 3.58%YoY, di bawah konsensus ekonom di level 3.7%YoY, seiring komponen harga bergejolak meningkat 0.36% yang berasal dari kelompok bahan makanan. BPS kembali merilis surplus neraca perdagangan pada Oktober 2016 US$1,206.8 juta, di atas konsensus ekonom surplus US$750 juta, dengan nilai Ekspor meningkat 0.88%MoM menjadi $12.68 miliar didukung kenaikan ekspor nonmigas hingga 1.22%MoM. Sementara nilai Impor turut meningkat 1.55%MoM menjadi $11.47 miliar di mana impor nonmigas menjadi faktor peningkatan impor Oktober 4.27%MoM. Secara akumulasi, tren surplus mencatatkan akumulasi 10M16 sebesar $6.93 miliar sedangkan Rupiah masih terjaga di level Rp 13,041/US$ - Rp 13,577/US$ sejalan dengan tren cadangan devisa yang kian membaik.

Dengan melihat kondisi Bulan November ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi cenderung mengalami rebound dengan pergerakan Indeks diprediksi berada dalam rentang 5.300-5.390 seiring dengan langkah window dressing dan ekspektasi rilis laporan keuangan emiten 3Q16 serta kinerja akhir tahun 2016 lebih baik sejalan dengan disepakatinya RUU APBN 2017 yang dinilai cukup positif serta berangsurnya membaik risiko politik baik dari luar maupun dalam negeri.

Oktober 2016

IHSG bulan Oktober 2016 ditutup naik +1.07% atau 57.74 poin di level 5,423 (dibanding bulan September 5,365) meningkat sejalan realisasi Tax Amnesty tahap I mencapai lebih dari 50% dari target di tengah sejumlah sentimen yang mixed. Indeks masih mampu menunjukkan kinerja positif meski investor asing mencatatkan net sell di pasar reguler sebesar Rp1,4 triliun, Aksi jual sepanjang bulan Oktober mencapai Rp4.5 triliun dengan kontribusi tekanan jual saham UNVR mencapai 15,37% sedangkan saham BBCA menjadi leader penguatan indeks dengan membukukan net buy oleh investor asing sebesar Rp594.55 Miliar. Kesepakatan OPEC menahan produksi Minyak Mentah mendorong kenaikan harga minyak dunia berlanjut ke US$51.93/barrel turut menjadi katalis positif. Positifnya kenaikan FFR sejalan dengan rilis data ekonomi AS terakhir menahan kinerja pasar saham dan obligasi, meski indikator PDB China 3Q16 menunjukkan probabilitas hardlanding telah terhindar sehingga pesimisme ekonomi global mereda. PDB Indonesia 3Q16 turut dirilis oleh BPS sebesar 5.02%YoY, in line dengan konsensus ekonom yang merevisi PDB Indonesia menjadi 5% hingga 2016. Di sisi lain, likuiditas rupiah cukup stabil ditunjukkan dengan posisi cadangan devisa Oktober terkoreksi tipis ke US$115.04 Miliar.

Dalam RDG BI (20/10), BI memangkas BI 7-Day (Reverse) Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4.75% di mana suku bunga deposito facility dan lending facility turut dipangkas 25 bps menjadi 4% dan 5.5%. Di sisi lain, BPS membukukan inflasi di Oktober 2016 sebesar 0.14%MoM sehingga inflasi Oktober menjadi 3.31%YoY, in line dengan konsensus ekonom di level 3.29%YoY, seiring komponen administered price meningkat 0.12% meski kelompok bahan makanan, sandang, dan transportasi masih mencatatkan deflasi bulanan di Oktober. BPS turut merilis neraca perdagangan September 2016 surplus tertinggi sebesar US$1,216.9 juta, di atas konsensus ekonom surplus US$450 juta, dengan nilai Ekspor turun-1.84%MoM menjadi $12.51 miliar dengan ekspor migas turun-6.78%. Sementara nilai Impor turut terkoreksi signifikan -8.78%MoM menjadi $11.30 miliar di mana impor nonmigas menjadi faktor penurunanimpor September-9.77%MoM. Secara akumulasi, tren surplus mencatatkan akumulasi 9M16 sebesar $5.59 miliar sedangkanRupiah masih terjaga di level Rp 12,950/US$ - Rp 13,050/US$ sejalan dengan tren cadangan devisa yang kian membaik.

Dengan melihat kondisi Bulan Oktober ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi cenderung mengalami koreksi minor dengan pergerakan Indeks diprediksi berada dalam rentang 5.300-5.390 seiring ekspektasi dari Tax Amnesty tahap II yang melambat di tengah ekspektasi risiko aset berdenominasi Rupiah yang semakin meningkat meski asumsi makro RAPBN 2017 menetapkan target defisit anggaran yang masih di level managable.

September 2016

IHSG bulan September 2016 ditutup turun tipis -0,40% atau -21,28 poin di level 5.365 (dibanding bulan Juli 5.386) terkoreksi sejalan fluktuasi dan ekspektasi risiko pasar yang meningkat. Investor asing mencatatkan net sell di pasar reguler sebesar Rp3,5 triliun, Aksi jual sepanjang bulan September mencapai Rp6 triliun dengan kontribusi tekanan jual saham BMRI mencapai 18,48% sedangkan saham BBRI menjadi faktor penahan koreksi indeks dengan membukukan net buy oleh investor asing sebesar Rp463 Miliar. Surplus neraca perdagangan kembali dibukukan serta peningkatan cadangan devisa tak luput memberi sentimen positif bagi pasar. Di sisi lain, pertemuan OPEC menghasilkan kesepakatan untuk menahan produksi Minyak Mentah yang mendukung kenaikan harga minyak dunia di level US$48/barrel turut menjadi katalis positif. Selain sentimen negatif dari hasil FOMC yang memastikan satu kali kenaikan FFR hingga akhir tahun 2016, prospek ekonomi Indonesia yang melambat turut menekan kondisi pasar di tengah ekspektasi inflasi yang kian menurun. Kekhawatiran defisit anggaran yang melebar disebabkan realisasi pendapatan pajak hingga September 2016 baru 55% dari target. 

Koreksi IHSG di akhir bulan mewarnai pasar di tengah lambatnya progress Tax Amnesty serta pesimisme kondisi perekonomian domestik kembali hadir. Tren penurunan pertumbuhan kredit berlanjut ke level 6%YoY di Agustus setelah di Juli tercatat 7,7%YoY. Risiko pertumbuhan ekonomi nampak secara bertahap di tengah penurunan cost of fund yang tidak sejalan dengan peningkatan pertumbuhan kredit. Dalam RDG BI (22/9), BI memangkas BI 7-Day (Reverse) Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 5% demi menjaga stabilitas kondisi moneter di mana suku bunga deposito facility dan lending facility turut dipangkas 25 bps menjadi 4.25% dan 5.75%. Di sisi lain, BPS membukukan inflasi di September 2016 sebesar 0.22%MoM sehingga inflasi September menjadi 3.07%YoY, in line dengan konsensus ekonom di level 3.04%YoY, seiring komponen inti meningkat 0.20% meski kelompok bahan makanan masih mencatatkan deflasi bulanan di September. BPS turut merilis neraca perdagangan Agustus 2016 surplus US$293.6 juta, di bawah konsensus ekonom surplus US$200 juta, dengan nilai Ekspor melonjak 32.54%MoM menjadi $12.63 miliar dengan pertumbuhan ekspor nonmigas Negara utama member kontribusi signifikan 21.3%. Sementara nilai Impor turut meningkat signifikan 36.84%MoM menjadi $12.34 miliar di mana ekspor nonmigas dan impor nonmigas menjadi faktor kenaikan masing-masing 34.84%MoM dan 40.90%MoM. Secara akumulasi, tren surplus mencatatkan akumulasi 8M16 sebesar $4.38 miliar. Rupiah mengalami penguatan ke Rp 12,915/US$  sejalan dengan realisasi tebusan Tax Amnesty yang signifikan mencapai Rp89 Triliun.

Dengan melihat kondisi Bulan September ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi cenderung menguat tipis dengan pergerakan Indeks diprediksi berada dalam rentang 5.300-5.410 seiring ekspektasi realisasi dari Tax Amnesty meningkat meski risiko ekspektasi pelebaran defisit anggaran masih membayangi seiring dengan claim pendapatan Pemerintah dari pajak yang masih lambat.

Agustus 2016

IHSG bulan Agustus 2016 ditutup naik 3,26% atau 170,09 poin di level 5.386 (dibanding bulan Juli 5.216) bergerak menguat di tengah kondisi pasar global dan regional yang variatif. Investor asing mencatatkan net buy di pasar reguler sebesar Rp7,78 triliun, secara keseluruhan perdagangan tercatat net buy hingga Rp12,8 triliun disebabkan INTP membukukan net buy hingga Rp4,5 triliun di pasar nego. Positifnya pasar di awal bulan disebabkan rilis PDB Indonesia Triwulan II sebesar 5,18%YoY, sejalan dengan prediksi World Bank yang memperkirakan sebesar 5,1%YoY. Kembalinya surplus neraca perdagangan serta meningkatnya cadangan devisa tak luput memberi sentimen positif bagi pasar. Kenaikan harga minyak dunia yang sempat mencapai US$48,75/ barrel turut menjadi katalis positif di tengah sentimen FOMC yang kembali hawkish terkait kenaikan FFR. Sejumlah sentimen negatif yang dominan dari domestik turut hadir menyebabkan koreksi pada pertengahan bulan. Di tengah perlambatan perdagangan China, prospek ekonomi Indonesia turut melambat di tengah ekspektasi inflasi yang kian menurun. Melemahnya nilai neraca perdagangan, meski masih membukukan surplus, di tengah inflasi yang menurun merupakan tanda perekonomian yang cenderung lemah. Hal tersebut diekspektasikan mendorong kepada potensi belanja Pemerintah yang kembali terkoreksi maupun pelebaran defisit anggaran yang memperburuk perekonomian domestik.

Koreksi IHSG di akhir bulan mewarnai pasar di tengah lambatnya progress Tax Amnesty serta pesimisme kondisi perekonomian domestik kembali hadir. Dalam RDG BI (19/8), BI menetapkan BI 7-Day (Reverse) Repo Rate sebesar 5.25% sebagai suku bunga acuan demi menjaga stabilitas kondisi moneter di mana suku bunga deposito facility dipertahankan di level 4,5% sedangkan lending facility turun 100bps menjadi 6%. Di sisi lain, BPS kembali mencatatkan deflasi di Agustus 2016 sebesar -0,02%MoM sehingga inflasi Agustus turun signifikan menjadi 2,79%YoY, di bawah konsensus ekonom di level 3,4%YoY, seiring komponen bergejolak menurun -0,22% di mana kelompok pengeluaran transportasi dan Jasa keuangan serta bahan makanan membrikan kontribusi terbesar angka deflasi Agustus. BPS turut merilis neraca perdagangan Juli 2016 kembali mencatatkan surplus US$598.3 juta, di bawah konsensus ekonom surplus US$800 juta, dengan nilai Ekspor turun -26,67%MoM menjadi $9,51 miliar sementara nilai Impor turut terkoreksi signifikan -26,28%MoM menjadi $8,92 miliar di mana impor migas anjlok -33,90%MoM sementara nonmigas turun -5,69%MoM. Secara akumulasi, tren surplus mencatatkan akumulasi 7M16 sebesar $4,17 miliar. Meski cadangan devisa kian meningkat ke level US$113,5 miliar, Rupiah terus mengalami koreksi ke Rp 13.330/US$ menandai bahwa risiko pasar masih cukup tinggi.

Dengan melihat kondisi Bulan Agustus ini, kami memperkirakan pasar saham dan obligasi berada dalam kondisi sideways dengan kecenderungan mengalami koreksi. Indeks diprediksi berada dalam rentang 5.150-5.250 seiring risiko investasi masih cukup tinggi ditandai penurunan yield 10-year tidak sejalan dengan pelemahan Rupiah.